Batik Parang

This slideshow requires JavaScript.


Batik dengan motif parang cukup populer dengan pengembangan ragam hias yang cukup banyak. Pada mulanya diciptakan oleh Panembahan Senapati saat bertapa di Pantai Selatan, mengambil inspirasi dari deburan ombak yang tak henti menghantam pantai. Ragam hias batik yang awalnya eksklusif digunakan penguasa ini, kini secara luas dapat diapresiasi siapapun.

 

Parang Pamor
Parang Pamor. Kata ‘pamor’ berarti aura yang terpancar dari diri seseorang. Dengan menggunakan batik ini diharapkan orang tersebut akan memancarkan auranya (wis pecah pamore).
Parang Curigo
Kata ‘curigo’ dari Parang Curigo berarti keris tanpa warangka. Bentuk keris terlihat pada bentuk geometrik parang yang hiasannya disusun berjajar pada 45Β°. Kemudian disertai ragam hias belah ketupat yang sejajar dengan pola parang. Ragam hias ini disebut sebagai mlinjon. Motif batik ini banyak dipakai untuk menghadiri pesta.
Parang Tuding
Nampak bahwa motif Parang Tuding menyerupai jari telunjuk (tuding artinya menunjuk) yang disusun berjajar. Mengandung makna bahwa penggunanya dapat menjadi pengarah, pemberi petunjuk pada kebaikan. Motif ini biasanya digunakan orang tua.
Parang Centong
Motif Parang Centong ini mengambil ragam hias dari bentuk centong (sendok nasi). Ada yang memaknainya sebagai “wis ceta macak” (sudah pandai merias diri). Biasa digunakan gadis yang beranjak dewasa terutama menghadiri pesta pernikahan.
Parang Kusumo
Kusumo dalam motif Parang Kusumo berarti bunga. Makna yang terkandung bahwasanya hidup harus dilandasi perjuangan untuk mencari keharuman lahir batin. Hal tersebut nampak pada harumnya pribadi dan perilaku seseorang. Dahulu motif ini hanya boleh dipakai kalangan keturunan raja di dalam keraton. Saat ini larangan tersebut tak berlaku dan rakyat umum biasa menggunakannya pada acara tukar cincin.
Parang Klitik
Motif Parang Klitik menggambarkan citra feminin, lembut, halus, dan bijaksana. Pada zaman dahulu biasa digunakan para puteri raja.
Parang Barong
Motif ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanryakusuma. Awalnya hanya boleh digunakan oleh raja. Maknanya adalah pengendalian diri dalam upaya yang sinambung. Raja harus memiliki kebijaksanaan dalam gerak dan kehati-hatian bertindak.
Parang Rusak
Motif ini diciptakan Panembahan Senopati, terinspirasi dari ombak yang tak pernah lelah menghantam karang pantai. Karenanya motif ini melambangkan upaya kontinu manusia melawan kejahatan dengan mengendalikan keinginan mereka sehingga tercapai kebijaksanaan, watak mulia karakter pemenang. Melambangkan kekuatan dan kekuasaan, pada zaman dulu motif ini hanya boleh dikenakan penguasa dan ksatria.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s