Daluang (barkpaper/ barkcloth) adalah kertas tradisional Indonesia yang terbuat dari bahan lembaran kulit kayu pohon paper mulberry (Broussonetia papyryfera Vent) atau dalam Basa Sunda disebut pohon saeh. Pohon Paper Mulberry adalah sejenis tumbuhan tingkat rendah yang diduga berasal dari Cina. Pohon Paper Mulberry termasuk ke dalam keluarga Moraceae. Tumbuhan ini juga dikenal dengan nama lain seperti Paper Moerbeiboom, Murier a Papier, Japanischer Papierbaum, dan Paper Mulberry. Beberapa daerah di Indonesia mengenal pula jenis daun ini dengan berbagai nama seperti Sepukau di Pasemah, Saeh di Jawa Barat, Glugu atau Galugu di Jawa Timur, Dhalubang atau Dhulubang di Madura, Kembala di Sumba Timur, Rowa di Sumba Barat, Ambo di Baree, Linggowas di Banggai, Iwo di Tembuku, dan Malak di Kepulauan Seram.

Karya olah kertas dari kulit kayu ini disebut Daluang / Kertas Saeh (Sunda, Jawa,dan Madura), Ulantaga (Bali), dan Kain Kulit Kayu / Ranta / Fuya / Tapa (Sulawesi). Meski di Sulawesi ditemukan juga belasan jenis kulit kayu lainnya yang diproses seperti itu.

Dalam pembuatan daluang, proses pertama yang dilakukan ialah membagi batang pohon yang telah ditebang menjadi beberapa bagian. Kemudian, 1/3 bagian panjang dari kertas akan diambil dari potongan kayu tersebut. Setelah itu kulit kayu diambil, diratakan menjadi lembaran selebar kira-kira 5 hingga 6cm. Dari lembaran kulit kayu tersebut, diambil bagian luar yang tidak berserat, kemudian diletakkan di atas balok kayu untuk dipukul satu persatu menggunakan pameupeuh (Basa Sunda: alat pemukul, sejenis palu). Proses ini menghasilkan kulit kayu yang panjangnya dua kali dari ukuran semula.

Setelah itu, lembaran kulit kayu direndam dalam air selama setengah jam. Berikutnya lembaran kulit kayu tersebut kembali dipukul hingga mencapai panjang 50cm lalu dijemur dibawah terik matahari hingga kering. Setelah kering kemudian lembaran kertas direndam, diperas, kemudian diipat dalam daun pisang yang segar selama 5 – 6 hari untuk proses pengeluaran lendir. Setelah proses pemeraman selesai, kemudian lembaran kertas diratakan di atas papan sambil ditekan – tekan menggunakan kulit kerang (kewuk) atau tempurung kelapa hingga permukaannya halus. Terakhir, lembaran kertas dibentangkan pada sebuah batang pohon pisang hingga kering. 

Sumber: http://www.amufidsururi.wordpress.com
Pemanfaatan daluang cukup beragam di nusantara. Menurut ahli filologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan peneliti daluang, Tedi Permadi, pada masa lampau daluang digunakan untuk berbagai keperluan praktis sehari-hari. Bagi umat Hindu, daluang adalah kertas suci yang digunakan sebagai ketitir dalam pelebon atau ngaben, sebagai kethu (mahkota penutup kepala untuk upacara keagamaan), tika (kalender hindu Bali) dan lainnya. Di Pulau Jawa, daluang biasa digunakan untuk menulis naskah sejak zaman pra-Islam. Catatan tertua dapat ditelusuri sejak abad ke-14. Naskah Awal Islamisasi yang ditemukan di Kawali sekitar abad ke-18 juga masih ditulis pada daluang (saeh), beraksara Cacarakan Kuna, berbahasa Jawa Kuna. Isinya terdiri dari dua bagian, pertama syariah, tentang solat dalam prosa, dan kedua tentang tasawuf dalam puisi. Ada sejumlah media yang digunakan untuk menulis di atas kertas daluang, antara lain lidi enau (Arenga pinata), kalam resan (Gleidhenia linearis), bambu, dll. Sementara tintanya adalah jenis tinta dari karbon yang terbuat dari jelaga lampu yang dicampur dengan kanji. Selain itu ada pula tinta sepia yang terbuat dari fosil kelompok Cephalopoda atau tinta cumi – cumi. Ditemukan pula tinta yang terbuat dari berbagai ramuan getah tumbuh – tumbuhan dan minyak kacang – kacangan.

Selain untuk menulis naskah, media inipun digunakan untuk membuat Wayang Beber yang hingga saat ini masih ada di kawasan Gunung Kidul.

Berbeda dengan daerah lainnya yang secara umum menggunakan daluang sebagai media kertas untuk menulis naskah atau melukis, di Sulawesi, daluang lebih sering dimanfaatkan sebagai bahan pakaian. Adapun penyiapan kulit kayu untuk pakaian seperti yang biasa dibuat Suku Dayak di Kalimantan atau Suku Banggai di Sulawesi berdasarkan tulisan dari Rumphius, seorang ahli Etnologi, proses pembuatan kain daluang tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan kertas daluang.


Daluang mulai diangkat ke permukaan dan digalakkan untuk diproduksi kembali sekitar tahun 90-an saat penyebarluasan benih kembali dilakukan sejak 1997 oleh Kelompok Bungawari, komunitas anak muda Bandung yang peduli budaya lingkungan. Kini, selain sejumlah pengkriya yang tersebar di Sulawesi yang rata-rata masih membuatnya sebagai tradisi, ada juga di Bandung dan beberapa daerah lain. Kemudian, berdasarkan salinan lampiran keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 270/P/2014 tanggal 8 Okt 2014 tentang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia, daluang dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Kini beberapa komunitas bergerak mengenalkan kembali daluang sebagai kertas tradisional Indonesia pada masyarakat umum. Penanaman pohon saeh pun mulai digalakkan kembali di sejumlah daerah. Penanaman pun ada yang dilakukan perorangan seperti oleh Ahmad Mufid Sururi dan Asep Nugraha di Bandung, Budi di Soreang, dan Edi Dolan di Salatiga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s