Workshop Clutch Bag Daluang pada 4 Februari 2017 berlangsung di Pesona Jogja Homestay. Pertama kali membaca publikasi workshop ini, Daluang menjadi salah satu ketertarikan saya untuk ikut serta.

 

Publikasi Workshop Clutch Bag Daluang

Maka setelah itu, saya mulai menggali informasi tentang daluang yang kemudian menjadi satu artikel di blog ini berjudul Daluang. Tertarik, saya segera mendaftarkan diri dengan mengirim email ke Indonesia Kriya sebab kuota peserta hanya dibatasi untuk 50 peserta. Empat hari menjelang hari H, undangan konfirmasi menjadi peserta pun tiba beserta informasi run down acara di hari H beserta hak dan kewajiban peserta.

 

Rundown Acara Workshop
 
Hak dan Kewajiban peserta workshop
 
Menjelang hari H, saya ingin memastikan lokasi acara workshop berlangsung: Pesona Jogja Homestay di Jl. Celeban UH 3 Gg. Pandu no.484 Yogyakarta. Namun, Daerah Umbulharjo semestinya bukanlah daerah yang asing bagi saya karena posisinya yang tak jauh dari lokasi Workshop Peponina, dan juga merupakan lokasi yang sering saya lewati bila hendak ke Kota Yogyakarta. Maka saya pun memutuskan untuk tidak perlu survey lokasi terlebih dahulu.
Hari H yang dinanti-nanti pun tiba. Benar saja, meski sempat perlu sekali bertanya pada penduduk sekitar di seputaran Gang Pandu, lokasi Pesona Jogja Homestay tak terlalu sulit saya temukan.

 

Plang nama Pesona Jogja Homestay yang langsung terlihat dari gapura masuk Gg. Pandu

Pembukaan

Sebelum masuk ke dalam kelas, peserta disambut oleh panitia di depan kelas, dan kemudian diarahkan untuk registrasi ulang. Belum banyak yang hadir saat saya tiba di lokasi. Sembari menunggu peserta lain dan juga kedatangan mesin jahit Brother yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi, kami dipersilahkan untuk mengambil snack dan minum kopi atau teh yang telah tersedia di luar kelas. Saya pun memilih kopi.

Kopi Pagi
 

Saat kelas mulai dipenuhi peserta, acara pun dimulai. Acara dibuka oleh Mbak Astri Damayanti, founder Kriya Indonesia, yang akrab disapa dengan Mbak Astri. Tak sendirian, pada sesi pembukaan ini, Mbak Astri ditemani oleh Mbak Tanti Amelia (Neng Doodle) dan Prof. Isamu Sakamoto. Run down acara yang akan berlangsung beserta teknis acara dijelaskan oleh Mbak Astrid pada sesi ini. Acara pembukaan saat itu diisi dengan Pengenalan Mesin Jahit Brother dan Daluang.

Sekilas pengenalan tentang Mesin Jahit Brother saat itu disampaikan oleh Mbak Astrid dan Perwakilan Brother. Mesin yang digunakan saat workshop bertipe GS-2700. Dijelaskan saat itu bahwa mesin jahit tersebut memiliki 27 variasi jahitan. Dan dengan sistem pembenangan yang otomatis kita tidak perlu repot memasukkan benng ke dalam jarum secara manual. Mesin jahit ini pun memiliki lampu LED yang cukup terang dan lembut di mata dengan daya pancar yang tahan lama. Untuk membuktikannya, peserta workshop dapat membuktikannya di Sesi Membuat Clutch Daluang.

Selanjutnya, sekilas pandang tentang Daluang oleh Prof Isamu Sakamoto, yang merupakan Ahli Daluang. Keterbatasan Prof. Isamu Sakamoto dalam berbahasa Indonesia, membuat Mbak Astrid pun turun tangan menerjemahkan penjelasan dari Prof. Isamu Sakamoto.

 

Mbak Astrid tengah menerjemahkan penjelasan Prof. Isamu Sakamoto dalam Bahasa Indonesia

Daluang sesungguhnya adalah istilah yang biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia di kepulauan Jawa untuk kertas tradisional Indonesia yang dibuat secara manual dari lembaran kulit kayu pohon paper mulberry (Broussonetia papyryfera Vent) atau dalam Basa Sunda disebut pohon saeh. Pohon ini termasuk ke dalam keluarga moraceae, yang tidak berbunga dan juga tidak berbuah, dan sering tumbuh dan ditemukan di Baemah (Sumatra), Sulawesi hingga pulau seram, Garut (Jawa Barat), Purwekerto (Jawa Tengah), Ponorogo (Jawa Timur), Pamekasan dan Sumenep (Pulau Madura). Di wilayah lain Nusantara seperti di Bali Daluang dikenal sebagai Ulantaga, di Sulawesi: Kain Kulit Kayu/ Ranta/ Fuya/ Tapa. Pada kesempatan itu, Prof. Isamu Sakamoto sempat menyebut Daluang sebagai fiber, mungkin disebabkan karena perbedaan istilah tersebut.

Di waktu yang sempit itu juga sempat dijelaskan secara singkat oleh Prof. Isamu Sakamoto dan Mbak Astrid tentang proses pembuatan Daluang. Berawal dari penebangan pohon dan kemudian membagi batang pohon menjadi beberapa potongan pendek (bagian ini akan menjadi kurang lebih sepertiga dari panjang  kertas yang akan dibuat), mengambil kulit kayunya, meratakan dan mengiris-๎€€irisnya menjadi sobekan yang lebarnya antara 5-6 cm. Lalu mengambil bagian kulit luar yang tidak mengandung serat dari sobekan kulit tersebut, kemudian meletakkannya diatas balok kayu, dan memukulinya satu persatu dengan alat penumbuk (batu ike). Selanjutnya melalukan proses perendaman, pencucian, penjemuran, dan pemeraman. Setelah itu meratakannya diatas papan hingga halus, dijemur, dan terakhir menghaluskannya dengan kulit kerang. Sebuah proses produksi yang tak mudah. Namun proses produksi yang membutuhkan waktu panjang dan alami ini membuat Daluang menjadi produk yang tahan lama_ Prof Isamu Sakamoto mengatakan, Daluang bisa bertahan hingga 1200 tahun.

 

Prof. Isamu Sakamoto dengan kaos bertuliskan Beaten Bark dan outer kemeja kombinasi kain daluang dan tenun cirebon

Pada akhirnya Prof. Isamu Sakamoto berharap bahwa seperti halnya Batik, Daluang sebagai salah satu warisan budaya bangsa pun pantas untuk juga dilestarikan dan kembali populer bagi masyarakat Indonesia. Semoga harapan itupun menjadi harapan sedikitnya seluruh peserta workshop saat itu.

 

Mbak Astri memberi penjelasan tentang Daluang

Setelah sesi pengenalan mesin jahit brother dan daluang usai, panitia membagi-bagikan kit untuk membuat clutch bag daluang untuk masing-masing peserta.

Kit clutch bag daluang untuk masing-masing peserta workshop

Membuat Clutch Bag Daluang

Seperti telah dijelaskan di Sesi Pembukaan bahwa keseluruhan peserta workshop akan dibagi menjadi dua kelompok. kelompok pertama adalah kelompok yang menjahit clutch bag terlebih dahulu, baru kemudian doodle diatas daluang. kelompok kedua adalah kelompok yang Doodle diatas daluang, baru kemudian menjahitnya menjadi Clutch Bag. Saya masuk dalam kelompok kedua.

Doodle Diatas Daluang

Sesi ini dipandu oleh Mbak Tanti. Diawali dengan menjelaskan apa itu pengertian doodle dan sejarahnya, sesi ini juga diisi dengan acara doodle bersama diatas kertas dan kemudian doodle diatas daluang.

Doodle secara sederhana mengandung arti mencoret, sehingga saat pengerjaannya bersifat spontan. Sedang secara etimologi, Doodle bermakna ‘bodoh’. Istilah ini digunakan oleh pasukan kolonial Inggris dalam lagu yang cukup populer “Yankee Doodle”. Lagu yang pada mulanya dinyanyikan oleh pasukan kolonial Inggris sebelum Perang Revolusi Amerika. Begitulah gambaran singkat doodle yang disampaikan Mbak Tanti.

Setelah memberi gambaran singkat tentang pengertian doodle, Mbak Tanti pun memberi beberapa contoh doodle yang sederhana.

Mbak Tanti memberi contoh doodle sederhana
 
Setelah itu, Mbak Tanti memandu peserta untuk mulai doodle diatas kertas sebagai pemanasan sebelum doodle diatas daluang. Mbak Tanti membagi kertas dan mempersilahkan peserta memilih warna spidol stabilo yang telah disediakan.
 

Spidol di dalam box adalah spidol yang dapat digunakan oleh peserta workshop

Kemudian, Mbak Tanti pun memberi waktu tiga menit bagi peserta untuk doodle diatas kertas. Dan dari riuhnya suara peserta yang terkejut dan keberatan, nampaknya saya punya banyak kawan karna riuhnya peserta tersebut menunjukkan jumlah peserta yang awam dengan doodle tidaklah sedikit. Sayapun mencoba untuk fokus doodle, mengingat definisi doodle yang disebut Mbak Tanti, dan mulai mencoret (saja). Dan foto di bawah inilah jadinya.

 

Doodle diatas kertas

Setelah selesai pemanasan doodle diatas kertas, sejenak Mbak Tanti meminta beberapa peserta menunjukkan hasil doodle-nya dan ‘menafsir’ kepribadian pen-doodle. ‘Karya doodle bisa mencerminkan kepribadian pembuatnya lo,’ begitu kata Mbak Tanti.

Maka sampailah di acara doodle diatas daluang. Terbayang di kepala penjelasan Prof. Isamu Sakamoto dan Mbak Astri di awal acara tentang proses pembuatan daluang yang demikian rumit, grogi rasanya harus mencoret daluang dengan doodle ala-ala saya. Namun syukurlah, beberapa contoh doodle sederhana dari Mbak Tanti dan spidol stabilo yang saya gunakan pada saat itu (stabilo no.68) cukup membantu proses doodle saya diatas daluang. Dengan spidol tersebut garis doodle saya tidak mbleber meski saya gunakan untuk doodle garis yang rapat diatas daluang. Selain itu, bentuk spidol yang heksagonal membuat spidol tersebut ergonomis alias pas di tangan, kalau istilah Mbak Tanty: Handy. Sebelumnya, Mbak Tanti pun menyebutkan bahwa spidol ini water based dan tahan (tidak kering) meski dalam kondisi terbuka selama 24 jam.

Hasil doodling saya di atas daluang.

Menjahit Clutch Bag Daluang

Secara bergantian peserta kelompok dua masuk dalam kelas menjahit karna ada beberapa peserta dari kelas pertama yang belum selesai menggunakan mesin jahit.

Diawali dengan menggabungkan kain pelapis dengan busa ati dengan diberi beberapa pin. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi bergesernya kain dan busa ati saat dijahit.

proses pemberian pin pada kain dan busa ati

Lalu dilanjutkan dengan menjahit menggabungkan kain pada busa ati di ketiga sisi kain, sisakan bagian kain yg segitiga. Lalu memasang magnet dengan cara melubangi kain sedikit dengan menusukkan pendedel pada kain dengan memperhatikan posisi tutup clutch bag. Masukkan dan kaitkan magnet.
Setelah magnet terpasang, tahap selanjutnya adalah menyetrika kain pelapis pada sisi dalam bakal clutch, menutupi seluruh bagian busa ati dan ujung-ujung sambungan busa ati juga kain. Biarkan sisa kain pelapis di bagian kain segitiga. Kemudian, memasang magnet penutup clutch bag di bagian kain segitiga. Lalu, setrika sisa kain pelapis ke arah luar, menutupi pengait magnet.

Hampir selesai. Langkah selanjutnya adalah menggabungkan dua sisi persegi kain dengan posisi kain berpelapis diatas dengan dijahit, lalu dibalik hingga posisi kain biru diatas. Dan selanjutnya, jahit daluang pada sisi kain segitiga (tutup clutch) dengan memilih variasi jahitan yang ada di mesin jahit brother. Selesai.

Meski agak sempit untuk menjahit dengan membolak balikkan kain dengan busa ati, mesin jahit brother dengan tipe ini cukup memudahkan penjahit pemula seperti saya. Awalnya grogi karna membayangkan menjahit busa ati dan kain, tapi ternyata mudah dan enteng dengan mesin ini.

Dan, workshop kali ini pun berakhir dengan makan siang dan foto bersama.

Peserta Workshop Clutch Bag Daluang sesi pertama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s