Sulam Jepang  (nihon shishu dalam Bahasa Jepang) merupakan teknik sulam berusia lebih dari seribu tahun. Motif yang dipilih cukup rumit berupa simbol-simbol tradisional dengan menggunakan benang perak dan emas di atas kain sutra halus. Dengan karakter demikian, Sulam Jepang awalnya khusus dipakai untuk dekorasi perlengkapan pada upacara religi. Seiring waktu, ia berkembang dengan keunikan karakter dan kualitasnya yang khas Jepang sehingga unsur artistiknya menjadi lebih dominan. Begitu pula persebarannya. Bila pada masa awal, jenis sulam ini begitu ekslusif dan hanya digunakan oleh segelintir orang kelas atas (selain mereka yang terkait dengan upacara religi, sejumlah orang yang sanggup membayar mahal pun dapat menggunakan hasil karya yang mahal karena pengerjaannya yang rumit ini). Namun, warisan budaya ini bertahan hingga sekarang dan semakin banyak dibuat atas jasa para penyulam andal dan memungkinkannya untuk meraih audiens lebih luas. 

japanese_embroidery
Sumber: http://www/newenglandregionega.org
Dari contoh foto di atas nampak kerumitan pola sulam dan teknik jahit tangan yang berbeda dengan sashiko yang merupakan susunan jahit jelujur. Karakter tersebut jugalah yang membedakan situasi terbatasnya penyebaran teknik ini di masa lalu, bila dibandingkan dengan sashiko yang justru hidup dan berkembang di kalangan bawah. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s