Nonton: Bauhaus Modell und Mythos

    Akhir pekan ini ada gelaran German Cinema, tapi ceritanya nanti deh. Masih belum move on dari tontonan yang diselenggarakan Goethe Institut bulan lalu tentang Bauhaus. Apalagi kemarin hari guru, jadi kayaknya pas buat ceritain Bauhaus bukan dari legacy desain-nya, tapi tentang institusi pendidikannya.
    Tentang filmnya sendiri, Bauhaus Modell und Mythos diceritakan dari narasi dan sudut pandang para alumninya yang pada saat film dibuat sudah sepuh-sepuh. Tapi sepintas tidak ada yang berubah spiritnya dari hari-hari muda mereka yang dihabiskan di Weimar atau Dessau, di bawah bimbingan Itten, Gropius, Moholy-Nagy, dkk.

    Mereka menceritakan keputusan untuk belajar di Bauhaus pada saat itu memang bukan perkara mudah karena para pengajar Bauhaus yang memulai pendidikan dengan membebaskan spirit kreatif murid-muridnya dan membuat ruang bebas untuk bereksplorasi dan berekspresi dengan berbagai material juga membawa spirit kebebasan yang cukup berbeda dengan sistem moral yang lazim di tengah masyarakat waktu itu. Bahkan ada yang orangtuanya sempat mengancam memutus warisannya jika sang anak nekat masuk Bauhaus.


    Menariknya, saat ditanya Bauhaus itu apa, bagi mereka Bauhaus lebih dari sebuah almamater. Bahkan bisa dibilang cult, aliran, atau apapun itu suatu entitas yang membangun loyalitas tinggi pada nilai-nilai yang ditransfer dan dihidupkan bersama dalam masa studi mereka. Ada yang membuat puisi tentang guru-guru mereka, dan sepintas saya berpikir bisa lebay banget gitu ya. Tapi menyaksikan penuturan murid-murid lainnya sepanjang film, tak diragukan sepertinya mereka memiliki emosi yang sama.

    Berbekal rasa penasaran itu saya mencari literatur yang bisa memberi penjelasan lebih dan ketemu dengan The New Vision, buku karya Laszlo Moholy-Nagy, salah satu guru di Bauhaus yang setelah hijrah ke Amerika membangun The New Bauhaus di sana. Bab awal dari bukunya memberi sedikit penjelasan tentang filosofi pendidikan Bauhaus dan setelah satu dua ooohh…saya mulai bisa membayangkan revolusionernya metode pendidikan Bauhaus saat itu sehingga menghasilkan murid-murid luar biasa dan menyebrkan pengaruhnya ke seluruh dunia bahkan sampai saat ini, 100 tahun sejak Walter Gropius mendirikan Bauhaus di Weimar.
  • .
    .
    Bauhaus menekankan pendidikan yang tidak menempatkan manusia sebagai objek/ alat untuk mengejar pertumbuhan ekonomi melalui industri, tapi juga tidak berarti menanggalkan kemajuan teknologi demi mempertahankan dominasi unsur manusianya. Karena fokusnya adalah pengakuan terhadap fungsi organik manusia secara utuh hingga dia kapabel untuk mengoptimalkan dirinya menghadapi kehidupan yang terus berevolusi. Bauhaus menyiapkan pelaku industri yang fungsional, yang orientasinya dari dan kepada manusia itu sendiri, bukan profit atau produk. Dari tangan-tangan merekalah akhirnya lahir produk yang, kalau bahasa saya awalnya kita tidak begitu sadar butuh tapi ternyata sangat sesuai dan tepat dengan yang kita perlukan. Berlebihan tidak ya jika dalam titik ini saya bilang desain menjadi problem solving atas pertanyaan yang bahkan belum terungkap. Karena itu bahkan desain untuk benda sesederhana handle pintu saja bisa jadi revolusioner dan tidak mudah menggantinya dengan sesuatu yang baru. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s